|
Sepeda yang Cenderung Menggoda Kompas, 6 September 2005 Oleh: M NASIR Sabtu 27 Agustus 2005, komunitas pekerja bersepeda mendeklarasikan keberadaannya di depan Balaikota DKI Jakarta. Komunitas ini perlu dideklarasikan agar semua pihak tahu bahwa di Jakarta ada pekerja yang bersepeda. Masyarakat pengendara sepeda motor dan mobil juga diharapkan memberi kesempatan para bikers itu melaju di jalan-jalan Jakarta. Tentu saja dengan deklarasi itu diharapkan tidak ada sikap yang melecehkan pesepeda, menyerempet, atau bahkan menabrak. Alhamdulillah sih sampai sekarang belum ada anggota kami yang meninggal akibat diserempet kendaraan bermotor, tutur Taufik Hidayat, Ketua Komunitas Pekerja Bersepeda, ketika ditanya mengenai tingkat kerawanan bersepeda di Jakarta yang padat lalu lintas. Dari penjelasan Taufik dapat ditarik kesimpulan bahwa selama ini pengendara kendaraan bermotor bersedia memberi kesempatan pesepeda melintas di jalan raya. Dalam deklarasi yang dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, pemerintah juga diingatkan agar memberi perlakuan yang adil terhadap pesepeda. Sikap adil diharapkan terwujud dalam bentuk konkret. Misalnya, memberi fasilitas bagi pekerja bersepeda. Jika di kantor-kantor terdapat lokasi parkir khusus sepeda motor dan mobil, mengapa untuk sepeda tidak? Kami mengharapkan adanya parkir khusus sepeda. Dengan tempat parkir khusus kami merasa tenang bekerja dan aman, kata Taufik. Alasan Taufik untuk meminta tempat parkir khusus masuk akal. Sebab jika tidak ada parkir khusus, sepeda-sepeda itu akan diparkir di sembarang tempat di antara kendaraan bermotor.
Dengan ukuran sepeda yang ringan dan mudah ditenteng, potensi pencurian sepeda sangat tinggi. Padahal, harga sepeda tidak kalah mahal dibandingkan dengan sepeda motor. Sebuah sepeda yang dimiliki anggota komunitas pesepeda ada yang seharga Rp 30 juta. Taufik juga berharap di kantor-kantor, baik itu instansi pemerintah maupun swasta, disediakan kamar mandi. Pemerintah DKI diharapkan memberikan dukungan dengan mendorong tersedianya kamar mandi di seluruh instansi. Sekarang ini tidak semua kantor menyiapkan kamar mandi. Ada toilet, tetapi tidak bisa untuk mandi. Jelas kami gerah dan berkeringat setelah menggenjot sepeda. Badan akan menjadi segar setelah mandi. Kalau kami harus menumpang mandi di kantor teman terus-menerus, tidak enak, tutur Taufik. Untuk tertib di jalan, komunitas pekerja bersepeda ini sudah berikrar. Dalam ikrar yang dibacakan dalam acara deklarasi, mereka bertekad menjunjung tinggi etika berlalu lintas serta menjaga ketertiban. Pesepeda tidak ingin menambah kusut lalu lintas Jakarta. B2W Sekitar 500 pesepeda yang hadir dalam deklarasi pekerja bersepeda 27 Agustus lalu berasal dari berbagai kalangan dan dari seluruh wilayah DKI Jakarta. Mereka sebagian pekerja kantoran di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pegawai kantor pemerintah di Jakarta Utara, Pusat, Barat, dan Timur, serta sejumlah anggota satuan pengaman (satpam). Yang tidak terlihat dalam kesempatan itu justru orang-orang yang sehari-hari bekerja dengan menggunakan sepeda, seperti tukang bakso, pedagang ikan, dan tukang ojek sepeda. Memang tidaklah asing lagi bagi pedagang bersepeda dalam bike to work (bersepeda untuk bekerja atau pekerja bersepeda). Tanpa dideklarasikan pun, mereka tetap menggunakan bersepeda untuk mencari nafkah.
Kalangan yang disebut terakhir ini memang bukan sasaran kampanye bike to work atau disingkat B2W. Sebagai catatan angka 2 di antara B dan W dibaca to, bukan two. Demikian istilah yang digulirkan di antara penggemar sepeda. Yang menjadi sasaran kampanye bersepeda adalah para pekerja atau karyawan yang selama ini menggunakan mobil dan sepeda motor untuk berangkat dan pulang kerja. Kami tidak mengejar jumlah. Yang penting mari kita mulai pergi ke kantor dengan menggunakan sepeda, tutur Tekad Adiyono, Sekretaris Komunitas Pekerja Bersepeda, yang ditemui Kompas. Tekad sudah menjalani B2W tiap hari. Tekad tidak sendirian. Pekerja-pekerja lain dengan tujuan yang sama, yaitu kawasan Kuningan, juga berangkat dengan sepeda dari rumah mereka. Misalnya, kelompok B2W dari Bintaro pada hari-hari tertentu juga bersepeda ke kantor di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Dari daerah Dari segi jumlah hari, kata Tekad, tidak penting. Tidak harus bersepeda ke tempat kerja setiap hari karena mungkin saja jarak antara rumah dan tempat pekerjaan sampai belasan atau bahkan puluhan kilometer. Seminggu sekali atau dua kali saja sudah cukup, tutur Tekad yang tiap hari bersepeda ke kantor di kawasan Kuningan. Cenderung menggoda Aktivitas bersepeda sebenarnya mengasyikkan bagi yang menyukainya. Bahkan banyak di antara mereka yang merasa ketagihan. Begitu tingginya tingkat ketagihan bersepeda, sepeda bisa diibaratkan candu yang mampu membuat penggunanya lupa segalanya.
Dalam program B2W, kecenderungan sepeda yang menggoda penggunanya untuk bermain, bisa melupakan pekerjaan yang menjadi tujuan utama. Jangan-jangan lebih banyak waktu untuk bermain-main dengan sepeda daripada waktu yang digunakan untuk kerja. Maka slogan bike to work harus selalu didengung-dengungkan pada penggemar sepeda agar tidak terpeleset ke dalam bike to play. Kecuali kalau kita ingin bersepeda untuk bermain. |
| Hendra Wijaya November 14, 2006 01:29 PM PST bravo bike to work "lets bike to work" | ||
| reno_kenongo September 22, 2006 03:57 PM PDT gue tinggal di pond pinang, jaksel kalo pengin pake speda ke kant di kawasan taman patra kuningan, jln yg paling enak dan aman lwt mana sich ? ada yg bisa kasih saran ? trim's | ||
| bagoes ARBOYO October 5, 2005 02:30 PM PDT GO..GO..GO..BIKE sikil hehehe... BRAVO B2W semoga tambah banyak rakyat yang sadar akan hemat energi dan kesehatan :) | ||
| Leave a Comment: |